Kamis, 06 September 2012


      Imunisasi


Pengertian Dasar  Imunisasi
1.      Reaksi Antigen-Antibodi
Dalam bidang imunologi kuman atau racun kuman (toksin) disebut sebagai antigen. Secara khusus antigen tersebut merupakan bagian protein kuman atau protein racunnya. Bila antigen untuk pertama kali masuk ke dalam tubuh manusia, maka sebagai reaksinya tubuh akan membentuk zat anti. Bila antigen itu kuman, zat anti yang dibuat tubuh disebut antibodi. Zat anti terhadap racun kuman disebut antioksidan. Berhasil tidaknya tubuh memusnahkan antigen atau kuman itu bergantung kepada jumlah zat anti yang dibentuk.
Pada umumnya tubuh anak tidak akan mampu melawan antigen yang kuat. Antigen yang kuat ialah jenis kuman ganas. Virulen yang baru untuk pertama kali dikenal oleh tubuh. Karena itu anak akan menjadi sakit bila terjangkit kuman ganas.
Jadi pada dasarnya reaksi pertama tubuh anak untuk membentuk antibodi/antitoksin terhadap antigen, tidaklah terlalu kuat. Tubuh belum mempunyai “pengalaman” untuk mengatasinya. Tetapi pada reaksi yang ke-2, ke-3 dan berikutnya, tubuh anak sudah pandai membuat zat anti yang cukup tinggi. Dengan cara reaksi antigen-antibody, tubuh anak dengan kekuatan zat antinya dapat menghancurkan antigen atau kuman; berarti bahwa anak telah menjadi kebal (imun) terhadap penyakit tersebut.
Dengan dasar reaksi antigen antibodi ini tubuh anak memberikan reaksi perlawanan terhadap benda-benda asing dari luar (kuman, virus, racun, bahan kimia) yang mungkin akan merusak tubuh. Dengan demikian anak terhindar dari ancaman luar. Akan tetapi, setelah beberapa bulan/tahun, jumlah zat anti dalam tubuh akan berkurang, sehingga imunitas tubuh pun menurun. Agar tubuh tetap kebal diperlukan perangsangan kembali oleh antigen, artinya anak terseut harus mendapat suntikan/imunisasi ulangan.

2.     Imunisasi aktif dan Imunisasi Pasif
Ada 2 jenis imunisasi, yaitu imunisasi aktif dan imunisasi pasif. Berikut ini akan diuraikan arti dan perbedaan kedua jenis imunisasi tersebut. Berbagai jenis vaksin yang dikemukakan di atas bila diberikan pada anak merupakan contoh pemberian imunisasi pasif. Dalam hal ini tubuh anak akan membuat sendiri zat anti setelah suatu rangsangan antigen dari luar tubuh, misalnya rangsangan virus yang telah dilemahkan pada imunisasi polio atau imunisasi campak. Setelah rangsangan ini kadar anti dalam tubuh anak akan meningkat, sehingga anak menjadi imun atau kebal. Jelaslah bahwa pada imunisasi aktif, tubuh anak sendiri secara aktif akan menghasilkan zat anti setelah adanya rangsangan vaksin dari luar tubuh.
Berlainan halnya dengan imunisasi aktif. Dalam hal ini imunisasi dilakukan dengan penyuntikan sejumlah zat anti, sehingga kadarnya dalam darah akan meningkat. Zat anti yang disuntikkan tadi biasanya telah dipersiapkan pembuatannya di luar tubuh anak, misalnya zat anti yang terdapat dalam serum kuda yang telah dimurnikan. Jadi pada imunisasi pasif, kadar zat anti yang meningkat dalam tubuh anak itu bukan sebagai hasil produksi tubuh anak sendiri, tetapi secara pasif diperoleh karena suntikan atau pemberian dari luar tubuh. Contoh imunisasi pasif ialah pemberian ATS (Anti Tetanus Serum) pada anak yang mendapat luka kecelakaan. Serum anti tetanus ini diperoleh dari darah kuda yang mengandung banyak zat anti tetanus. Contoh imunisasi pasif lain terjadi pada bayi baru lahir. Bayi itu menerima berbagai jenis zat anti dari ibunya melalui darah uri (plasenta), misalnya zat anti terhadap penyakit campak ketika bayi masih dalam kandungan ibu.
Perbedaan yang penting antara jenis imunisasi aktif dan imunisasi pasif ialah:
(1)    Untuk memperoleh kekebalan yang cukup, jumlah zat anti dalam tubuh harus meningkat; pada imunisasi aktif diperlukan waktu yang agak lebih lama untuk membuat zat anti itu dibandingkan dengan imunisasi pasif.
(2)    Kekebalan yang terdapat pada imunisasi aktif bertahan lama (bertahun-tahun), sedangkan pada imunisasi pasif hanya berlangsung untuk 1 – 2 bulan.
- Imunisasi pasif: tubuh anak sendiri membuat zat anti yang akan bertahan selama bertahun-tahun.
-  Imunisasi aktif: tubuh anak tidak membuat sendiri zat anti. Anak mendapatnya dari luar tubuh dengan cara penyuntikan bahan/serum yang telah mengandung zat anti.
-  Kekebalan yang diperoleh dengan imunisasi pasif tidak berlangsung lama.

 3. Jenis Imunisasi

Imunisasi wajib, Program Pengembangan Imunisasi (PPI)
Jenis imunisasi ini mencakup vaksinasi terhadap 6 penyakit utama, yaitu BCG, DPT, Polio dan Campak. Harus menjadi perhatian dan kewajiban orang tua untuk memberi kesempatan kepada anaknya mendapat imunisasi lengkap, sehingga sasaran Pemerintah agar setiap anak mendapat imunisasi dasar terhadap 6 penyakit utama pada tahun 1990 dapat tercapai.

1. Vaksin BCG
    Vaksinasi dan jenis vaksin: pemberian imunisasi BCG bertujuan untuk menimbulkan kekebalan aktif terhadap penyakit tuberkulosis (TBC). Vaksin BCG mengandung kuman BCG (Bacillus Calmette guerin) yang masih hidup. Jenis kuman TBC ini telah dilemahkan.
    Penjelasan penyakit: di Indonesia dan di negara sedang berkembang lainnya, TBC masih merupakan penyakit rakyat yang sangat mudah menular. Di negara yang sudah berkembang, penyakit ini sudah sangat jarang ditemukan, karena dilaksanakannya imunisasi BCG dengan luas, pengawasan ketat terhadap penderita TBC dan perbaikan keadaan sosial ekonomi.
     Cara imunisasi: pemberian imunisasi BCG sebaiknya dilakukan ketika bayi baru lahir sampai berumur 2 bulan. Setiap 5 tahun imunisasi diulang. Pada anak yang berumur lebih dari 2 bulan, dianjurkan untuk melakukan uji Mantoux sebelum imunisasi BCG. Gunanya untuk mengetahui apakah ia telah terjangkit penyakit TBC. Seandainya hasil uji Mantoux positif, anak tersebut selayaknya tidak mendapat imunisasi BCG.
      Bila pemberian imunisasi BCG itu “berhasil”, setelah beberapa Minggu di tempat suntikan akan terdapat benjolan kecil. Tempat suntikan itu kemudian berbekas. Kadang-kadang benjolan tersebut bernanah, tetapi akan menyembuh sendiri meskipun lambat. Biasanya penyuntikan BCG dilakukan di lengan kanan atas.
      Kekebalan : Seperti telah diuraikan di atas, jaminan imunisasi tidaklah mutlak 100% bahwa anak akan terhindar sama sekali dari penyakit TBC. Seandainya bayi yang telah mendapat imunisasi terjangkit juga penyakit TBC, maka ia akan menderita penyakit TBC ini dalam bentuk yang ringan. Ia pun akan terhindar dari kemungkinan mendapat TBC yang berat, seperti TBC paru yang parah, TBC tulang atau TBC selaput otak yang dapat mengakibatkan cacat seumur hidup dan membahayakan jiwa anak.
       Reaksi imunisasi: setelah suntikan BCG bayi tidak akan menderita demam.
   Efek samping: umumnya pada imunisasi BCG jarang dijumpai akibat samping. Mungkin terjadi pembengkakan kelenjar getah bening setempat yang terbatas dan biasanya menyembuh sendiri walaupun lambat. Bila suntikan BCG dilakukan di lengan atas, pembengkakan kelenjar terdapat di ketiak atau leher bagian bawah. Suntikan di paha dapat menimbulkan pembengkakan kelenjar di selangkangan. Komplikasi pembengkakan kelenjar ini biasanya disebabkan arena teknik penyuntikan yang kurang tepat, yaitu penyuntikan terlalu dalam.
   Indikasi kontra: tidak ada larangan untuk melakukan imunisasi BCG, kecuali pada anak yang berpenyakit TBC atau menunjukkan uji Mantoux positif.

2. Vaksin DPT (Difteria, Pertusis, Tetanus)
    Vaksin dan jenis vaksin: manfaat pemberian imunisasi ini ialah untuk menimbulkan kekebalan aktif dalam waktu yang bersamaan terhadap penyakit difteria, pertusis (batuk rejan) dan tetanus. Dalam peredaran di pasaran terdapat 3 jenis kemasan vaksin ketiga penyakit ini. Dapat diperoleh dalam bentuk kemasan tunggal khususnya bagi tetanus, dalam bentuk kombinasi DT (difteria dan tetanus), dan kombinasi DPT (dikenal pula sebagai vaksin tripel).
    Cara imunisasi: imunisasi dasar diberikan 2-3 kali, sejak bayi berumur 2 bulan dengan jarak waktu antara 2 penyuntikan 4-6 minggu. Imunisasi dasar dengan 3 kali penyuntikan lebih baik daripada dengan 2 kali penyuntikan. Untuk imunisasi massal (di sekolah, RT/RW), biasanya cukup diberikan 2 kali penyuntikan. Imunisasi ulang lazimnya diberikan ketika anak berumur 1 ½ – 2 tahun, menjelang umur 5 tahun (sebelum masuk sekolah dasar), dan menjelang umur 10 tahun (sebelum keluar Sekolah Dasar), masing-masing hanya diberi 1 kali suntikan.
     Reaksi imunisasi: reaksi yang mungkin terjadi biasanya demam ringan, pembengkakan dan rasa nyeri di tempat suntikan selama 1 – 2 hari.
   Efek samping: kadang-kadang terdapat akibat samping yang lebih berat, seperti demam tinggi atau kejang, yang biasanya disebabkan oleh unsur pertusisnya. Bila hanya diberikan DT (difteria dan tetanus) tidak akan menimbulkan akibat samping demikian.
  • Indikasi kontra: imunisasi DPT tidak boleh diberikan kepada anak yang sakit parah, pernah menderita kejang atau pada penyakit gangguan kekebalan (defisiensi imunologik). Sakit batuk, pilek, demam atau diare yang sifatnya ringan, bukan merupakan indikasi kontra yang mutlak.


3. Vaksin Poliomielitis

   Vaksinasi dan jenis vaksin: imunisasi diberikan untuk mendapatkan kekebalan terhadap penyakit poliomielitis. Terdapat 2 jenis vaksin dalam peredaran, yang masing-masing mengandung virus polio tipe I, II dan III, yaitu:
(1)    Vaksin yang mengandung virus polio tipe I, II, dan III yang sudah dimatikan (vaksin Salk). Cara pemberian vaksin ini ialah dengan penyuntikan.
(2)    Vaksin yang mengandung virus polio tipe I, II, dan II yang masih hidup, tetapi dilemahkan (vaksin Sabin). Cara pemberiannya ialah melalui mulut dalam bentuk pil atau cairan.
Di Indonesia yang lazim diberikan ialah vaksin jenis Sabin. Kedua jenis vaksin tersebut mempunyai kebaikan dan kekurangannya. Kekebalan yang diperoleh sama baiknya. Karena cara pemberiannya lebih mudah melalui mulut, maka lebih sering dipakai jenis Sabin. Di beberapa negara dikenal “Tetra vaccine” yang mengandung 4 jenis vaksin, yaitu kombinasi DPT dan polio, cara pemberiannya dengan suntikan.

    Penjelasan penyakit: Poliomielitis ialah penyakit infeksi akut yang disebabkan oleh virus polio. Telah dikenal 3 jenis polio, yaitu tipe I, II dan III. Virus polio akan merusak bagian anterior (bagian muka) susunan saraf tulang belakang. Penyakit ini terutama banyak terdapat di negara yang sedang berkembang. Di Indonesia di Semarang tahun 1954, di Medan tahun 1957. Gejala penyakit ini sangat bervariasi, dari gejala ringan sampai timbul kelumpuhan, bahkan mungkin suatu kematian. Gejala yang umum dan mudah dikenal ialah anak mendadak menjadi lumpuh pada salah satu anggota geraknya, setelah ia menderita demam selama 2-5 hari. Bila kelumpuhan itu terjadi pada otot pernafasan, mungkin anak akan meninggal karena sukar bernafas. Penyakit ini dapat langsung menular dari seorang penderita polio atau dengan melalui makanan.
   Cara imunisasi: di Indonesia dipakai vaksin Sabin yang diberikan melalui mulut. Imunisasi dasar diberikan ketika anak berumur 2 bulan, sebanyak 2-3 kali. Jarak waktu antara 2 pemberian ialah 4-6 minggu. Sevaksinasi diberikan ketika anak berumur 1 ½ – 2 tahun, menjelang umur 5 tahun dan menjelang umur 10 tahun (lihatlah jadwal imunisasi, hal 61). Vaksin polio dapat diberikan bersama dengan vaksin DPT.
 Apabila sudah terkena penyakit polio masih diperlukan imunisasi ulang karena mungkin anak yang menderita polio hanya terjangkit oleh virus polio tipe I. Artinya, bila penyakitnya telah menyembuh ia hanya mempunyai kekebalan terhadap virus polio tipe I, tetapi tidak memungkinkan kekebalan terhadap jenis virus polio tipe II dan III. Sehingga untuk mendapat kekebalan terhadap kedua jenis virus tersebut perlu diberikan imunisasi ulang polio.
    Kekebalan: Daya proteksi vaksin polio sangat baik, yaitu sebesar 95-100%.
    Reaksi imunisasi: biasanya tidak ada, mungkin pada bayi akan terdapat berak-berak ringan.
   Efek samping: Pada imunisasi polio hampir tidak terdapat efek samping. Bila ada, mungkin berupa kelumpuhan anggota gerak seperti pada penyakit polio sebenarnya.
    Indikasi kontra: Pada anak dengan diare berat atau yang sedang sakit parah, imunisasi polio sebaiknya ditangguhkan. Demikian pula pada anak yang menderita penyakit defisiensi kekebalan tidak diberikan polio. Alasan untuk tidak memberikan vaksin polio pada keadaan diare berat ialah kemungkinan terjadinya diare yang lebih parah. Pada anak dengan penyakit batuk, pilek, demam atau diare ringan, imunisasi polio dapat diberikan seperti biasanya.

4. Vaksin Campak (Morbili)

     Vaksinasi dan jenis vaksin: Imunisasi diberikan untuk mendapat kekebalan terhadap penyakit campak secara aktif. Vaksin campak mengandung virus campak hidup yang telah dilemahkan. Vaksin campak yang beredar di Indonesia dapat diperoleh dalam bentuk kemasan kering tunggal atau dalam kemasan kering di kombinasi dengan vaksin gondong/bengok (mumps) dan rubela (campak Jerman). Di Amerika Serikat kemasan terakhir ini dikenal dengan nama MMR (Measles Mumps-Rubela Vaccine).
    Penjelasan penyakit: istilah asing untuk penyakit campak ialah Marbilli (Latin), Measles (Inggris). Penyakit ini sangat mudah menular. Kuman penyebabnya ialah sejenis virus yang termasuk ke dalam golongan paramyxo virus. Gejala yang khas yaitu timbulnya bercak-bercak merah di kulit (eksantem), 3-5 hari setelah anak menderita deman, batuk atau pilek. Bercak merah ini mula-mula timbul di pipi di bawah telinga. Kemudian menjalar ke muka, tubuh dan anggota gerak. Pada stadium berikutnya bercak merah tersebut akan berwarna cokelat kehitaman dan akan menghilang dalam waktu 7-10 hari kemudian. Tahap penyakit ketika timbul gejala demam disebut stadium katarak. Tahap ketika kemudian timbul bercak merah di kulit disebut stadium eksantem. Pada stadium katarak penyakit campak sangat mudah menular kepada anak lain. Daya tular ini menjadi berkurang pada stadium eksantem.
Pada waktu stadium katarak dan stadium eksantem anak nampak sakit berat, lesu dan tidak ada nafsu makan. Sebenarnya penyakit campak sendiri merupakan penyakit yang terbatas dan dapat sembuh sendiri, tetapi sering diikuti oleh komplikasi yang cukup berat. Komplikasi penyakit campak yang berbahaya ialah radang otak (ensefalitis atau ensefalopati), radang paru, radang saluran kemih dan menurunnya keadaan gizi anak. Terutama pada anak yang kurang gizi, sering terdapat komplikasi radang paru yang mungkin dapat mengakibatkan kematian.
     Cara imunisasi: Bayi yang baru lahir telah mendapat kekebalan pasif terhadap penyakit campak dari ibunya ketika ia dalam kandungan. Makin lanjut umur bayi, makin berkurang kekebalan pasif tersebut. Waktu berumur 6 bulan biasanya bayi itu tidak mempunyai kekebalan pasif lagi. Dengan adanya kekebalan pasif ini sangatlah jarang seorang bayi menderita campak pada umur kurang dari 6 bulan.

       Menurut WHO (1973) imunisasi campak cukup dilakukan dengan 1 kali suntikan setelah bayi berumur 9 bulan. Lebih baik lagi setelah ia berumur lebih dari 1 tahun. Karena kekebalan yang diperoleh berlangsung seumur hidup, maka tidak diperlukan revaksinasi lagi. Di Indonesia keadaannya berlainan. Kejadian campak masih tinggi dan sering dijumpai bayi menderita penyakit campak ketika ia berumur antara 6-9 bulan, jadi pada saat sebelum ketentuan batas umur 9 bulan untuk mendapat vaksinasi campak seperti yang dianjurkan WHO. Dengan memperhatikan kejadian ini, sebenarnya imunisasi campak dapat diberikan sebelum bayi berumur 9 bulan, misalnya pada umur antara 6-7 bulan ketika kekebalan pasif yang diperoleh dari ibu mulai menghilang. Akan tetapi kemudian ia harus mendapat satu kali suntikan ulang setlah berumur 15 bulan.

     Kekebalan: Daya proteksi imunisasi campak sangat tinggi, yaitu 96-99%. Menurut penelitian, kekebalan yang diperoleh ini berlangsung seumur hidup, sama langgengnya dengan kekebalan yang diperoleh bila anak terjangkit campak secara alamiah.
    Reaksi imunisasi: Biasanya tidak terdapat reaksi akibat imunisasi. Mungkin terjadi demam ringan dan nampak sedikit bercak merah pada pipi di bawah telinga pada hari ke 7-8 setelah penyuntikan. Mungkin pula terdapat pembengkakan pada tempat suntikan.
     Efek samping: Sangat jarang, mungkin terdapat kejang yang ringan dan tidak berbahaya pada hari ke 10-12 setelah penyuntikan. Selain itu dapat terjadi radang otak, berupa ensefalitis atau ensefalopati, dalam waktu 30 hari setelah imunisasi. Tetapi kejadiannya sangat jarang, yaitu 1 diantara 1 juta suntikan. Angka ini jauh lebih rendah dibandingkan dengan kejadian radang otak akibat penyakit campak alamiah yang sebesar 1 diantara 250 kasus. Dengan demikian risiko untuk terjadinya radang otak akibat infeksi alamiah 2.500 kali lebih besar daripada akibat imunisasi.
Demikian pula dapat terjadi akibat samping lain pada jaringan otak yang dikenal dengan istilah SSPE (subacute sclerosing panencephalitis). Kejadiannya sangat jarang (1 diantara 1 juta penderita campak).
Indikasi kontra: Menurut WHO (1963), indikasi kontra hanya berlaku terhadap anak yang sakit parah, yang menderita TBC tanpa pengobatan, atau yang menderita kurang gizi dalam derajat berat. Vaksinasi campak sebaiknya juga tidak diberikan pada anak dengan penyakit defisiensi kekebalan. Juga tidak diberikan pada anak yang menderita penyakit keganasan atau sedang dalam pengobatan penyakit keganasan. Karena belum terkumpulnya cukup informasi ilmiah, sebaiknya imunisasi campak pada ibu hamil ditangguhkan. Pada anak yang pernah kejang, imunisasi campak dapat diberikan seperti biasanya, asalkan dengan pengawasan dokter.
5. Vaksin Hepatitis B
Vaksinasi dan jenis vaksinasi: Vaksinasi dimaksudkan untuk mendapat kekebalan aktif terhadap penyakit hepatitis B. Penyakit ini dalam istilah sehari-hari lebih dikenal  dengan nama penyakit lever. Jenis vaksin ini baru dikembangkan dalam waktu 10 tahun terakhir, setelah diteliti bahwa virus hepatitis B mempunyai kaitan erat dengan terjadinya penyakit lever. Vaksin terbuat dari plasma carrier hepatitis B yang sehat dengan cara pengolahan tertentu. Dari bahan plasma tersebut dapat dipisahkan dan dimurnikan bagian virus yang dapat dipakai dalam pembuatan vaksin lebih lanjut. Di kalangan masyarakat dikhawatirkan pemakaian vaksin yang terbuat dari plasma karena adanya berita akibat samping berupa penyakit AIDS. Namun setelah pemakaiannya yang lebih dari 10 tahun, ternyata tidak didapatkan adanya efek samping yang berarti. WHO melaporkan pula bahwa pemakaian vaksin tersebut cukup aman dan bebas dari penyakit AIDS.
Setelah percobaan yang lamanya bertahun-tahun, dalam 2-3 tahun terakhir ini telah beredar di pasaran vaksin Hepatitis B yang pembuatannya menggunakan teknik rekombinasi DNA dengan memakai bahan sel ragi. Dengan teknik ini diharapkan vaksin dapat diproduksi dalam jumlah yang lebih banyak dan biaya pengolahannya lebih rendah, tanpa mengurangi mutu vaksin. Dengan demikian harga yang cukup mahal ini dapat ditekan, sehingga terjangkau oleh sebagian besar masyarakat.
Penjelasan penyakit: penyakit ini tersebar di seluruh dunia, tetapi angka kejadian yang paling tinggi tercatat di negara Afrika dan Asia, khususnya di daerah Afrika Sahara dan Asia Tenggara. Di Taiwan satu diantara 7 orang dilaporkan mengidap virus hepatitis B dalam darahnya. Di Indonesia kejadiannya satu diantara 12-14 orang. Selanjutnya dinyatakan bahwa 10% di antara pengidap virus tadi akan menjadi carrier yang menahun, yang setelah beberapa tahun kemudian menunjukkan gejala kanker hati atau sirosis hati. Virus hepatitis B yang masuk dalam tubuh akan berkembang biak di dalam jaringan hati dan kemudian merusaknya. Gejala utama penyakit hepatitis ialah kekuningan pada mata, rasa lemah, mual, muntah, tidak nafsu makan dan demam.
Terhadap penyakit kanker terjadinya penularan hepatitis B, di antaranya: (1) Melalui tusukan di kulit dan jaringan tubuh lainnya, misalnya dengan suntikan biasa, tusukan anting, tato, akupunktur, goresan luka, tindakan operasi termasuk perawatan gigi. (2) Pemindahan cairan tubuh, misalnya melalui susu ibu, bersenggama, berciuman, tindakan operasi. (3) Melalui darah atau plasma waktu transfusi. (4) Selama masa janin dengan melalui uri, meskipun penularan cara ini jarang terjadi.
Cara imunisasi: Imunisasi aktif dilakukan dengan cara pemberian suntikan dasar sebanyak 2 atau 3 kali dengan jarak waktu 1 bulan. Selanjutnya dilakukan 1 kali imunisasi ulang dalam waktu 5-12 bulan setelah imunisasi dasar. Revaksinasi berikutnya diberikan setiap 5 tahun. Cara pemberian imunisasi dasar di atas mungkin berbeda, karena tergantung dari jenis vaksin yang dibuat oleh pabrik. Misalnya imunisasi dasar dengan memakai vaksin buatan Pasteur Prancis berbeda dengan penggunaan vaksin MSD Amerika Serikat.
Di samping itu perlu diberikan pula imunisasi pasif, khusus bagi bayi yang dilahirkan dari seorang ibu yang mengidap virus hepatitis B. Caranya yaitu dengan pemberian imunoglobulin khusus dalam waktu 12 jam setelah bayi lahir. Kemudian dalam waktu 7 hari berikutnya bayi ini harus sudah mendapat imunisasi aktif dengan penyuntikan vaksin hepatitis B. Cara pemberian imunisasi aktif selanjutnya sama seperti pemberian kepada anak lain.
Mengingat daya tularnya yang tinggi dari ibu kepada bayi, sebaiknya ibu hamil memeriksakan darahnya untuk pemeriksaan hepatitis B, sehingga dapat dipersiapkan tindakan yang diperlukan menjelang kelahiran bayi.
Kekebalan: Daya proteksi vaksin hepatitis B cukup tinggi, yaitu berkisar antara 94-96%.
Reaksi imunisasi: Reaksi imunisasi yang terjadi biasanya berupa nyeri pada tempat suntikan yang mungkin disertai dengan timbulnya rasa panas atau pembengkakan. Reaksi ini akan menghilang dalam waktu 2 hari. Reaksi lain yang mungkin terjadi ialah demam ringan.
Efek samping: Selama pemakaian 10 tahun ini, tidak dilaporkan adanya efek samping yang berarti. Berbagai suara di masyarakat tentang kemungkinan terjangkit oleh penyakit AIDS, merupakan pemberitaan yang dibesar-besarkan. Dengan penelitian yang luas, WHO tetap menganjurkan pelaksanaan imunisasi hepatitis B.
Indikasi kontra: imunisasi tidak dapat diberikan kepada anak yang menderita sakit berat. Vaksinasi hepatitis B ini dapat diberikan kepada ibu hamil dengan nama aman dan tidak akan membahayakan janin. Bahkan akan memberikan perlindungan kepada janin selama dalam kandungan ibu maupun kepada bayi selama beberapa bulan setelah lahir.
4. Sputum
Sputum adalah  bahan yang dikeluarkan dari paru, bronchus, dan trachea melalui mulut. Biasanya juga disebut dengan expectoratorian. (Dorland). Sputum diproduksi disel goblet yang berada pada resporatory tract.
Orang dewasa normal bisa memproduksi mukus (sekret kelenjar) sejumlah 100 ml dalam saluran napas setiap hari. Mukus ini digiring ke faring dengan mekanisme pembersihan silia dari epitel yang melapisi saluran pernapasan. Keadaan abnormal produksi mukus yang berlebihan (karena gangguan fisik, kimiawi, atau infeksi yang terjadi pada membran mukosa), menyebabkan proses pembersihan tidak berjalan secara adekuat normal seperti tadi, sehingga mukus ini banyak tertimbun. Bila hal ini terjadi, membran mukosa akan terangsang, dan mukus akan dikeluarkan dengan tekanan intrathorakal dan intraabdominal yang tinggi. Dibatukkan, udara keluar dengan akselerasi yg cepat beserta membawa sekret mukus yang tertimbun tadi. Mukus tersebut akan keluar sebagai sputum.
Sputum yang dikeluarkan oleh seorang pasien hendaknya dapat dievaluasi sumber, warna, volume, dan konsistensinya, karena kondisi sputum biasanya memperlihatkan secara spesifik proses kejadian patologik pada pembentukan sputum itu sendiri.
Klasifikasi bentukan sputum dan kemungkinan penyebabnya:
  • Sputum yang dihasilkan sewaktu membersihkan tenggorokan, kemungkinan berasal dari sinus, atau asluran hidung, bukan berasal dari saluran napas bagian bawah.
  • Sputum banyak sekali dan purulen → proses supuratif (eg. Abses paru)
  • Sputum yg terbentuk perlahan&terus meningkat → taanda bronkhitis/  bronkhiektasis.
  • Sputum kekuning-kuningan → proses infeksi
  • Sputum hijau → proses penimbunan nanah. Warna hijau ini dikarenakan adanya verdoperoksidase yg dihasikan oleh PMN dlm sputum. Sputum hijau ini sering ditemukan pada penderita bronkhiektasis karena penimbunan sputum dalam bronkus yang melebar dan terinfeksi.
  • Sputum merah muda&berbusa → tanda edema paru akut.
  • Sputum berlendir, lekat, abu-abu/putih → tanda bronkitis kronik.
  • Sputum berbau busuk → tanda abses paru/ bronkhiektasis


 Pertusis


1.Definisi
             Pertusis adalah infeksi saluran pernapasan akut berupa batuk yang sangat berat atau batuk intensif. Nama lain tussis quinta, wooping cough, batuk rejan

2. Etiologi
              Penyebab pertusis adalah Bordetella pertusis atau Hemopilus pertusis.
Bordetella pertusis adalah suatu kuman yang kecil ukuran 0,5-1 um dengan diameter 0,2-0,3 um , ovoid  kokobasil, tidak bergerak, gram negative , tidak berspora, berkapsul dapat dimatikan pada pemanasan 50ยบC tetapi bertahan pada suhu rendah 0- 10ยบC dan bisa didapatkan dengan melakukan swab pada daerah nasofaring penderita pertusis yang kemudian ditanam pada media agar Bordet-Gengou.
3. Epidemiologi
                Tersebar diseluruh dunia . ditempat tempat yang padat penduduknya dan dapat berupa endemic pada anak. Merupakan penyakit paling menular dengan attack rate 80-100 % pada penduduk yang rentan. Bersifat endemic dengan siklus 3-4 tahun antara juli sampai oktober sesudah akumulasi kelompok rentan,  Menyerang semua golongan umur yang terbanyak anak umur , 1tahun, perempuan lebih sering dari laki laki, makin muda yang terkena pertusis makin berbahaya. Insiden puncak  antara 1-5 tahun, dengan persentase kurang dari satu tahun : 44%, 1-4 tahun : 21%, 5-9 tahun : 11%, 12 tahun lebih: 24% ( Amerika tahun 1993).
4. Patofisiologi
        Bordetella pertusis diitularkan melalui sekresi udara pernapasan yang kemudian melekat pada silia epitel saluran pernapasan.  Basil biasanya bersarang pada silia epitel thorak mukosa, menimbulkan eksudasi yang muko purulen, lesi berupa nekrosis bagian basal dan tengah epitel torak, disertai infiltrate netrofil dan makrofag.
Mekanisme patogenesis infeksi Bordetella pertusis yaitu perlengketan, perlawanan, pengerusakan local dan diakhiri dengan penyakit sistemik. Perlengketan dipengaruhi oleh FHA ( filamentous Hemoglutinin), LPF (lymphositosis promoting factor), proten 69 kd yang berperan dalam perlengketan  Bordetella pertusis pada silia yang menyebabkan Bordetella pertusis dapat bermultipikasi dan menghasilkan toksin dan menimbulkan whooping cough. Dimana LFD menghambat migrasi limfosit dan magrofag didaerah infeksi.
Perlawanan karena sel target dan limfosist menjadi lemah dan mati oleh karena ADP (toxin mediated adenosine disphosphate) sehingga meningkatkan pengeluaran histamine dan serotonin, blokir beta adrenergic, dan meningkatkan aktivitas insulin.
Sedang pengerusakan lokal terjadi karena toksin menyebabkan peradangan ringan disertai hyperplasia jaringan limfoid peribronkial sehingga meningkatkan jumlah mucus pada permukaan silia yang berakibat fungsi silia sebagai pembersih akan terganggu akibatnya akan mudah terjadi infeksi sekunder oleh sterptococos pneumonia, H influenzae, staphylococos aureus.
Penumpukan mucus akan menyebabkan plug  yang kemudian menjadi obstruksi dan kolaps pada paru, sedang hipoksemia dan sianosis dapat terjadi oleh karena gangguan pertukaran oksigen saat ventilasi dan menimbulkan apneu saat batuk. Lendir yang terbentuk dapat menyumbat bronkus kecil sehingga dapat menimbulkan emfisema dan atelektasis. Eksudasi dapat pula sampai ke alveolus dan menimbulkan infeksi sekunder, kelaina paru itu dapat menimbulkan bronkiektasis.

5. Gejala Klinis
Masa inkubasi Bordetella pertusis adlah 6-12 hari ( rata rata 7 hari). Sedang perjalanan penyakit terjadi antara 6-8 minggu
Ada 3 stadium Bordetella pertusis
1.      Stadium kataral (1-2 minggu)
Menyerupai gejala ispa : rinore dengan lender cair, jernih, terdapat injeksi konjungtiva, lakrimasi, batuk ringan iritatif kering dan intermiten, panas tidak begitu tinggi, dan droplet sangat infeksius
2.      Stadium paroksimal atau spasmodic (2-4 minggu)
Frekwensi derajat batuk bertambah 5-10 kali pengulangan batuk kuat, selama ekspirasi diikuti usaha insprasi masif yang medadak sehingga menimbulkan bunyi melengking (whooop) oleh karena udara yang dihisap melalui glotis yang menyempit. Muka merah, sianosis, mata menonjol,lidah menjulur, lakrimasi, salivasi, petekia diwajah, muntah sesudah batuk paroksimal, apatis , penurunan berat badan, batuk mudah dibangkitkan oleh stress emosiaonal dan aktivitas fisik. Anak dapat terberak berak dan terkencing kencing. Kadang kadang pada penyakit yang berat tampak pula perdarahan subkonjungtiva dan epistaksis.
3.      Stadium konvalesens (6-8 minggu)
Whoop mulai berangsur angsur menurun dan hilang 2-3 minggu kemudian tetapi pada beberapa pasien akan timbul batuk paroksimal kembali. Episode ini akan berulang ulang untuk beberapa bulan dan sering dihubungkan dengan infeksi saluran napas bagian atas yang berulang.
6. Diagnosis
Diagnosis ditegakan berdasarkan atas anamnesis, pemeriksaan fisik dan pemeriksaan laboraturium. Pada anamnesis penting ditanyakan adakah serangan yang khas yaitu batuk mula mula timbul pada malam hari tidak mereda malahan meningkat menjadi siang dan malam dan terdapat kontak dengan penderita pertusis, batuk bersifat paroksimal dengan  bunyi whoop yang jelas, bagaimanakah riwayat imunisasinya. Pada pemeriksaan fisik tergantung dari stadium saat pasien diperiksa. Pada pemeriksaan laboratorium didapatkan leukositosis( 20.000-50000/ul) pada akhir stadium kataralis dan permulaan stadium spasmodic. Pada pemeriksaan  secret nasofaring didapatkan Bordetella pertusis. Dan pemeriksaan lain adalah foto thorak apakah terdapat infiltrate perihiler, atelektasis atau emfisema.
Diagnosis dapat dibuat dengan memperhatikan batuk yang khas bila penderita datang pada stadium spasmodic, sedang pada stadium kataralis sukar dibuat diagnosis karena menyerupai common cold.

7. Diagnosis banding
Pada batuk spasmodic perlu dipikirkan bronkioitis, pneumonia bacterial, sistis fibrosis, tuberculosis dan penyakit lain yang menyebabkan limfadenopati dengan penekanan diluar trakea dan bronkus.
Infeksi Bordetella parapertusis, Bordetella bronkiseptika dan adenovirus dapat menyerupai sindrom klinis Bordetella pertusis. Tetapi dapat dibedakan dengan isolasi kuman penyebab.

8. Komplikasi
1.      Alat pernapasan
Dapat terjadi otitis media “sering pada bayi”, bronchitis, bronkopneumonia, atelektasis yang disebabkan sumbatan mucus, emfisema “dapat juga terjadi emfisema mediastinum, leher, kulit pada kasus yang berat”, bronkiektasis, sedangkan tuberculosis yang sebelumnya telah ada dapat menjadi bertambah berat, batuk yang keras dapat menyebabkan rupture alveoli, emfisema intestisial, pnemutorak.
2.      Alat pencernaan
Muntah muntah yang berat dapat menimbulkan emasiasi, prolapsus rectum atau hernia yang mungkin timbul karena tingginya tekanan intra abdominal, ulcus pada ujung lidah karena lidah tergosok pada gigi atau tergigit pada waktu serangan batuk, stomatitis.
3.      Susunan saraf pusat
Kejang dapat timbul karena gangguan keseimbangan elektrolit akibat muntah muntah. Kadang kadang terdapat kongesti dan edema otak, mungkin pula terjadi perdarahan otak, koma, ensefalitis, hiponatremi.
4.      Lain lain
Dapat pula terjadi perdarahan lain seperti epistaksis, hemoptisis dan perdarahan subkonjungtiva.
9. Terapi
1. Antibiotika
a         Eritromisin dengan dosis 50 mg/kgbb/hari dibagi dalam 4 dosis.
Obat ini dpat menghilangkan Bordetella pertusis dari nasofaring dalam 2-7 hari ( rata rata 3-4 hari) dengan demikian memperpendek kemungkinan penyebaran infeksi. Eritromisin juga menyembuhkan pertusis bila diberikan dalam stadium kataralis, mencegah dan menyembuhkan pneumonia, oleh karena itu sangat penting untuk pengobatan pertusis untuk bayi muda.
b        Ampisilin dengan dosis 100 mg/kgbb/hari, dibagi dalam 4 dosis. Lain lain : rovamisin, kotromoksazol, kloramfenikol dan tetrasiklin.
2. Imunoglobulin
Belum ada penyesuaian faham mengenai pemberian immunoglobulin pada stadium kataralis.
a         Ekspektoransia dan mukolitik
b        Kodein diberikan bila terdapat batuk batuk yang hebat sekali
c         Luminal sebagai sedative
d        Oksigen bila terjadi distress pernapasan baik akut maupun kronik
e         Terapi suportif : atasi dehidrasi, berikan nutrisi
f         Betameatsol dan salbutamol untuk mencegah obstruksi bronkus, mengurangi batuk paroksimal, mengurangi lama whoop.
10. Prognosis
Bergantung kepada ada tidaknya komplikasi, terutama komplikasi paru dan susunan saraf pusat yang sangat berbahaya khususnya pada bayi dan anak kecil. Dimana frekuensi komplikasi terbanyak dilaporkan pada bayi kurang dari 6 bulan mempunyai mortalitas morbiditas yang tinggi.

Minggu, 25 Maret 2012

Zat Aditif


ZAT ADITIF
รจ  PENGERTIAN
Zat aditif adalah zat yang biasa ditambahkan kedalam suatu jenis  makanan atau minuman, sehingga makanan atau minuman tersebut lebih menarik. Umumnya, zat aditif tidak memiliki nilai gizi. Zat ini berfungsi untuk zat tambahan seperti mengawetkan makanan, menambah rasa dan aroma, dan mempermudah proses pembuatan makanan ataupun minuman, dan sebagainya.
Pada zaman dulu, teknik pengolahan makanan hanya menggunakan bahan-bahan alami, seperti kunyit, cabe, gula, pandan, dsb. Karena manusia tidak hanya puas dengan bahan alami dalam memenuhi kebutuhan dan peningkatan kualitas hidupnya, maka dibuatlah bahan sintesis.

รจ MACAM – MACAM
1. Zat Aditif Alami
Zat aditif alami merupakan zat aditif yang diperoleh langsung dari alam. Tapi,
dengan bertambahnya jumlah penduduk dunia yang semakin banyak, maka dituntut juga jumlah makanan yang lebih besar sehingga zat-zat aditif alami tidak cukup lagi. Pada umunya zat aditf alami tidak menimbulkan efek samping, aman dikonsumsi dan tidak bertahan lama.
2. Zat Aditif Buatan
            Zat aditif sintetis atau buatan merupakan zat aditif atau zat tambahan makanan yg diperoleh melalui sintesis (pembuatan) baik di laboratorium maupun di industri dari bahan bahan kimia yang sifatnya hampir sama dengan bahan alami yg sejenis. Keunggulan zat aditif sintetis adalah dapat di produksi dalam jumlah besar, lebih stabil, takaran penggunaannya lebih sedikit dan biasanya tahan lebih lama.

Sedangkan kelemahan zat aditif sintetis adalah dapat menimbulkan risiko penyakit kanker atau bersifat karsinogenik.
Zat aditif sintesis aman dikonsumsi selama masih dalam ambang batas aman penggunaannya. Batas penggunaan bahan makanan ini, diatur oleh Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia No. 722/Menkes/PER/IX/88 tentang Bahan Tambahan Makanan, berdasarkan ADI (Acceptable Daily Intake), yaitu tidak menimbulkan bahaya jika dikonsumsi oleh manusia dengan dasar perhitungan yaitu perkilogram berat badan.

ZAT – ZAT ADITIF ALAMI
1. Zat Pewarna

No.
Contoh
Fungsi
1.
Curcuma longa, kunyit (curcumin)
Memberi warna kuning
2.
Dracaena angustifolia, daun suji. (Klorofil)
Memberi warna hijau
3.
cabai merah. (Kapsaisin)
Memberi warna merah
4.
Anato
digunakan untuk memberi warna eskrim es krim menjadi orange
5.
Daucus carota, wortel. (beta-karoten)
Memberi warna kuning
6.
Theobroma cacao, cokelat
Memberi warna coklat
7.
Kulit buah manggis
(Garcinia mangostana)
untuk warna ungu

2. Zat Penyedap Rasa / Pemberi Aroma
                  Contohnya antara lain :

-    pala
-          merica
-          cabai
-          laos
-          kunyit
-          ketumbar (Coriandrum sativum)
-          vanili
-          Jahe, Zingiber officinale, memiliki aroma pedas manis
-          Pandan, Mengharumkan kue, minuman dan makanan


3. Zat Pemanis
No.
Contoh
Fungsi
1.
gula pasir
Memberi rasa manis
2.
madu
Memberi rasa manis, serta khasiat tertentu yang terkandung dalam madu.
3.
Gula kelapa
Memberi rasa manis dan aroma tertentu.

4. Zat Pengawet
No.
Contoh
Fungsi
1.
Minyak Zaitun
(Vitamin E Oil, tokoferol)
Pengawet minyak
2.
Garam
nakan untuk membuat asinan ataupun ikan asin
3.
Gula
digunakan utuk membuat manisan buah-buahan


5. Zat Anti Oksidan

No.
Contoh
Fungsi
1.
Minyak Zaitun
(Vitamin E Oil, tokoferol)
Meremajakan kulit, melindungi kulit.
2.
Tulsi (Basil kudus), Ocimum sanctum
membantu dalam mencegah tanda-tanda awal tanda-tanda penuaan
3.
Paterseli, Petroselinum crispum
Anti oksidan dalam tubuh

6. Zat Pengemulisi, Pemantap, Pengental

No.
Contoh
Fungsi
1.
Daun waru
Untuk mengentalkan minuman

รจ  Pada umunya zat aditif alami tidak menimbulkan efek samping, karena bersumber langsung dari alam.

 


ZAT – ZAT ADITIF SINTETIS

1. Zat Pewarna
                  Pewarna berfungsi untuk memberi warna bahan makanan agar tampil menarik, sehingga dapat menarik konsumen untuk membeli dan mengonsumsinya. Berikut ini adalah tabel yang menunjukan contoh zat pengawet yang sudah diketahui akibatnya.

No.
Contoh
Fungsi
Efek Samping
1.
Rhodamin B (pewarna tekstil), jenisnya :
Acid Bruliant Pink B
ADC Rhodamine B
Aizen Rhodamine BH
Aizen Rhodamine BHC
Akiriku Rhodamine B
Briliant Pink B
Calcozine Rhodamine BL
Calcozine Rhodamine BX
Calcozine Rhodamine BXP
Cerise Toner
[9-(orto-Karboksifenil)-6-(dietilamino)-3H-xantin-3-ylidene]dietil ammonium klorida
Cerise Toner X127
Certiqual Rhodamine
Cogilor Red 321.10
Cosmetic Briliant Pink Bluish D conc
Edicol Supra Rose B
Elcozine rhodamine B
Geranium Lake N
Hexacol Rhodamine B Extra
Rheonine B
Symulex Magenta
Takaoka Rhodmine B
Tetraetilrhodamine`
Pewarna tekstil, tetapi kadang-kadang digunakan untuk pewarna makanan oleh para orang tak bertanggung jawab
Kanker dan menimbulkan keracunan pada paru-paru, tenggorokan, hidung, dan usus
2.
Tartazine
Memberi warna kuning
Meningkatkan kemungkinan hyperaktif pada masa kanak-kanak.
3.
Sunset yellow FCF
Memberi warna kuning minuman ringan.. permen.. selai.. dan agar agar
Menyebabkan kerusakan kromosom
4.
Ponceau 4R
Memberi warna merah Minuman ringan.. Yoghurt.. Jeli
Anemia dan kepekatan pada hemoglobin.
5.
Carmoisine (merah)
Memberi warna merah
Menyebabkan kanker hati dan menimbulkan alergi
6.
Quinoline Yellow
Memberi warna kuning
Hypertrophy, hyperplasia, carcinomas kelenjar tiroid
                          
                  Contoh lainnya adalah :
-          Pemberi warna merah : Eritrosim warna merah, allura, amaranth
-          Pemberi warna coklat : Coklat HT warna coklat
-          Pemberi warna biru    : Brilliant blue FCF
-          Pemberi warna hijau  : Fast Green FCF
-          Pemberi warna putih : Titanium oksida
-          Pemberi warna ungu : Indigocarmine
                       
2. Zat Pemutih, Pemutih Tepung
                  Selain zat pewarna makanan kita mengenal zat pemutih makanan. Zat pemutih ini baik digunakan untuk memperbaiki warna bahan makanan tanpa merusak komposisi bahan makanan. Misalnya, tepung yang masih baru biasanya berwarna kuning kecoklat-coklatan atau kuning keabu-abuan. Zat pemutih tersebut dapat digunakan untuk memutihkan tepung tersebut. Contoh-contoh pemutih yang aman digunakan dalam makanan adalah :

-          Oksida klor
-          Hidrogen peroksida
-          Benzoil peroksida
-          Natrium hipoklorit  Na(ClO)
-          natrium stearil fumarat
-          azodicarbonamide (E 927)
-          carbamide (E927b)
-          kalium bromate (E92)
-          L-sistein (E920, E921

                  Ada zat pemutih yang memiliki fungsi ganda yaitu sebagai pemutihwarna zat makanan juga sebagai pereaksi untuk menjadikan bahan makanan itu larut dalam air. Misalnya, Natrium hipo-klorit digunakan agar pati yang tidak larut dalam air menjadi larut dalam air.

3. Zat Penyedap Rasa
                  Makanan yg kita konsumsi sehari hari tak lepas dari penyedap dan bumbu masak. Karena memang zat tersebut menambah sedap dan menimbulkan selera malam. Penyedap dan bumbu masak kemasan banyak mengandung penyedap sintetis. Pengkonsumsian yang berlebiahn bisa menyebabkan pusing, mual dan kelainan pada sistem eksresi. berikut ini adalah tabel contoh zat penyedap rasa yang telah diketahui efek sampingnya

No.
Contoh
Fungsi
 Efek Samping
1.
Mono natrium Glutamat (vetsin) dan Monosodium Glutamat (MSG)
Penyedap makanan, memberi rasa gurih
Kelainan hati, trauma, Hipertensi, Stress, Demam tinggi, Mempercepat proses penuaan, Alergi kulit, Mual, Muntah, Migren, Asma, Ketidakmampuan belajar, Depresi.
                 
                  Contoh lainnya adalah :

-          guanosin monofosfat (GMP)
-          ionosin monofosfat (IMP)
-          asam cuka
-          benzaldehida
-          amil asetat
-          monopotassium glutamat
-          kalsium diglutamate
-          monoamonium glutamat
-          magnesium diglutamate
-          guanylic asam
-          dinatrium guanylate
-          dipotassium guanylate
-          kalsium guanylate
-          inosinic asam
-          dinatrium inosinate
-          dipotassium inosinate
-          kalsium inosinate
-          kalsium 5'-ribonucleotides  
-          dinatrium 5'-ribonucleotides
-          maltol, etil maltol
-          glisin
-          leusin
-          seng asetat


4. Zat Pemanis
                  Pemanis sintetis adalah pemanis pengganti gula pasir atau gula tebu atau sukrosa. Pemanis sintetis biasanya digunakan dalam pembuatan sirup, sari buah, minuman ringan, dan macam macam kue. Pengkonsumsian yang berlebiahn bisa menyebabkan pusing, mual dan kelainan pada sistem eksresi aeperti kencing manis. berikut ini adalah tabel yang menunjukan efek samping yang telah diketahui dari contoh zat pemanis sintetis.


No.
Contoh
Fungsi
Efek Samping

Siklamat
(berbahaya jika dikonsumsi)
memberi kemanisan 30 kali lebih manis daripada gula
Kanker (Karsinogenik)

Sakarin
memberi tingkat kemanisan 300 kali lebih manis daripada gula
Infeksi dan Kanker kandung kemih

Aspartan
memberi tingkat kemanisan 200 kali lebih manis daripada gula
Gangguan saraf dan tumor otak

Asesulfam
memberi tingkat kemanisan 200 kali lebih manis daripada gula
Gangguan saraf, tumor otak, serta karsinogenik

                  Contoh lainnya adalah :

-          Dulsin
-          Sorbitol
-          Neotam (tingkat kemanisan 8000-13000x gula)
-          Sakharin (biasa dipakai pada makanan berkalori rendah, juga makanan untuk penderita diabetes)
-          Adenylic Asam atau adenosin monofosfat (AMP)
-          Brazzein
-          Curculin
-          Erythritol
-          Isomalt Lactitol
-          Luo Han Guo Mabinlin Maltitol
-          Maltooligosaccharide
-          Miraculin Monatin
-          Monellin
-          Pentadin
-          Stevia rebiana, Truvia, PureVia; terutama mengandung rebaudioside A,
-          Tagatose  
-          Thaumatin
-          Xylitol0

5. Zat Pengawet
                  Pengawet digunakan agar makanan lebih tahan lama dan tidak cepat buruk di simpan. Bahan pengawet menghambat atau mematikan pertumbuhan mikroba atau mikroorganisme yg dapat merusak dan memburuk makanan. Terlalu banyak makan-makanan yang mengandung zat pengawet akan mengurangi daya tahan tubuh terhadap serangan berbagai penyakit. Berikut ini adalah tabel contoh zat pengawet sintetis beserta efek samping yang telah diketahui.

No.
Contoh
Fungsi
Efek Samping
1.
Formalin
(berbahaya jika dikonsumsi)
sebagai pengawet mie, dsb
Kanker paru-paru, gangguan pada alat pencernaan, penyakit jantung dan merusak sistem saraf.
2.
Boraks
(berbahaya jika dikonsumsi)
pengawet bakso, dsb
Mual, muntah, diare, penyakit kulit, kerusakan ginjal, serta gangguan pada otak dan hati.
3.
Natamysin
(berbahaya jika dikonsumsi)
Sebagai pengawet makanan atau minuman kaleng.
Mual, muntah, tidak nafsu makan, diare dan perlukaan kulit.
4.
Kalium Asetat
(berbahaya jika dikonsumsi)
Sebagai pengawet makanan atau minuman kaleng.
Kerusakan fungsi ginjal.
5.
Nitrit dan Nitrat
pengawet untuk mempertahankan warna daging atau iklan
Keracunan, mempengaruhi kemampuan sel darah membawa oksigen ke berbagai organ tubuh, sulit bernapas, sakit kepala, anemia, radang ginjal, dan muntah-muntah.
6.
Kalsium Benzoate, Natrium benzoat dan asam benzoat (C6H5COOH)
digunakan sebagai pengawet minuman ringan.. kecap.. margarin.. saus.. manisan.. dan buah kalengan.
Memicu terjadinya serangan asma.
Senyawa ini dapat mempengaruhi rasa. Bahan makanan atau minuman yang diberi benzoat dapat
memberikan kesan aroma fenol
7.
Sulfur Dioksida
pengawet untuk mempertahankan warna daging atau iklan
Perlukaan lambung, mempercepat serangan asma, mutasi genetik, kanker dan alergi.
8.
Kalsium dan Natrium propionate
pengawet roti, keju,  margarin, dan mentega.
Penggunaaan melebihi angka maksimum tersebut bisa menyebabkan migren, kelelahan, dan kesulitan tidur.
9.
Natrium metasulfat
Mengawtkan makanan-minuman
Alergi pada kulit

                  Contoh lainnya adalah :

-          Asam sorbat
-          Asam propinoat
-          Etilen oksida dan etil format digunakan untuk menghilangkan hama dari bumbu-bumbuan dan kacang-kacangan.
-          Metil p-hidroksibenzoat, digunakan pada mi instant.
-          Propil-p-hidroksi benzoat
-          Natrium metabisulfit, Natrium sulfite
-          Kalium sorbat, Kalium sulfite
-          Etil p-hidroksi benzoate
-          Benzethonium klorida
-          Benzisothiazolinone
-          Tert-Butylhydroquinone
-          Kalsium benzoat
-          Kalsium tartrat
-          DMDM hydantoin
-          Diazolidinyl urea
-          Dimetil dicarbonate
-          EDTA
-          Ethylparaben
-          Germaben
-          Glycolic acid        
-          Hexamine
-          Imidazolidinyl urea
-          Isothiazolinone
-          Methylchloroisothiazolinone
-          Methylisothiazolinone
-          Natamycin
-          PAPB
-          Paraben
-          Persulfate
-          2-Phenylphenol
-          Phytic asam.
-          Kalium sorbate t
-          Kalium nitrat
-          Propil benzoat
-          Propylparaben
-          Quaternium-15
-          Natrium benzoat
-          Natrium klorida
-          Natrium nitrat
-          Sorbic asam
-          Belerang dioksida
-          natrium bisulfit (biasanya ditambahkan pada sirup, saus tomat, terasi, minuman ringan, ikan yang diawetkan, sosis, margarine, manisan, kecap)
-          asam cuka untuk acar, Asam Salisilat dan garamnya (Salicylic Acid and its salt)
-          Dietilpirokarbonat (Diethylpirocarbonate, DEPC)
-          POLYETHYLENE GLYCOL Di oleat (PEG), untuk pengawet warna


6. Zat Pengatur Keasaman, Penetral, Pendapar
                  Zat aditif ini berfungsi untuk mengasamkan, menetralkan, dan mempertahankan derajat keasaman makanan atau minuman. Contohnya antara lain

-          asam asetat, asam sitrat, asam laknat, asam tartrat, Asam klorida, Asam tentrat
-          natrium bikarbonat, Natrium sulfat
-          amonium bikarbonat.
-          Aluminium amonium sulfat
-          Kalium sulfa

7. Zat Sekuantran (zat pengikat logam)
                  Sekuestran merupakan bahan penstabil yg digunakan dalam berbagai makanan olahan. Sekuestran mengikat logam dalam bahan makanan, sehingga menjaga kestabilan bahan. Sekuestran yang paling sering digunakan adalah asam sitrat dan turunannya.
                  Contoh lainnya :
-          Kalium sitrat (dalam es krim)
-          Etilendiamintetraasetat / Kalsium dinatrium EDTA dan dinatrium EDTA (Ethylene Diamine Tetra Atetic Acid)
-          Asam fosfat (pada lemak dan minyak makan)

8. Zat Anti Oksidan
                  Antioksidan berfungsi melindungi makanan yg mengandung lemak atau minyak dari ketengikan. Ketengikan terjadi karena minyak atau lemak yg terkandung dalam makanan rusak oleh proses oksidasi. Secara sederhana oksidasi dapat dikatakan merupakan suatu proses peruraian minyak dan lemak. Antioksidan yg ditambahkan akan menghambat terjadinya proses oksidasi tersebut.
                  Yang termasuk termasuk antioksidan antara lain:

-          Butil hidroksi anisol (BHA) dan butil hidroksitoluena (BHT) ditambahkan pada makanan yang mengandung lemak dan minyak goreng agar tidak cepat basi (tengik).
-          Asam askorbat (serta garam kaliumnya, garam kalsiumnya, dan garam natriumnya)di tambahkan ke dalam daging olahan, makanan bayi, Dan kaldu.
-          TBHQ, digunakan pada mi instant
-          Anoxomer
-          Ascorbyl palmitate
-          Ascorbyl Stearate
-          Betalain
-          Butylated hydroxyanisole
-          Butylated hydroxytoluene
-          Tert-Butylhydroquinone
-          Kalsium laktat
-          Dodecyl gallate  
-          Erythorbic asam
-          Ethoxyquin
-          Etil gallate
-          Indicaxanthin
-          Lutein
-          Lycopene
-          Mineral ascorbates
-          Octyl gallate
-          Phosphoric acid
-          Kalium tartrat
-          Kalium natrium tartrat
-          Propyl gallate
-          Natrium erythorbate
-          Asam tartarat
-          Tokoferol
-          Vulgaxanthin


9. Zat Penambah Gizi
                  Zat aditif yang ditambahkan adalah asam amino, mineral, atau vitamin untuk memperbaiki gizi makanan. Contoh :

-          Asam askorbat
-          Feri fosfat
-          Kalsium
-          Vitamin A, C, D, K, B1, B6, B12
-          Niasin
-          Asam Folat
-          Pantotenat
-          iodium dan mineral (Ca2+, Mg2+, dan Fe3+).
-          Pengganti lemak : Caprenin, Olestra, Simplesse, Z-Trim


10. Zat Penggumpal / Kempal (Anticaking agen)
Zat aditif ini dapat mencegah pengempalan makanan yang berupa serbuk. Contohnya antara lain :

-          Kalsium aluminium silikat (untuk garam meja)
-          Magnesium karbonat                                               
-          Magnesium oksida
-          E500 Natrium bikarbonat
-          E535 Sodium ferrocyanida
-          E536 Kalium ferrocyanida
-          E538 Calcium ferrocyanida
-          E542 Bone fosfat
-          E550 Sodium silikat
-          E551 Silikon dioksida
-          E552 Kalsium silikat
-          E553a Magnesium trisilicate
-          E554 Sodium aluminosilikat
-          E555 Kalium aluminium silikat
-          E556 Calcium aluminosilikat
-          E558 Bentonite
-          E559 Aluminium silikat (untuk susu bubuk)
-          E570 Asam stearat
-          E900 Polydimethylsiloxan


11. Zat Pengemulisi, Pemantap, Pengental
                  Zat aditif ini dapat membantu pembentukan atau pemantapan sistem dispersi yang homogen pada makanan. Emulsifier memungkinkan air dan minyak untuk tetap dicampur bersama dalam suatu emulsi, seperti pada mayones, es krim, dan homogen susu. Contoh zat – zat di atas adalah :

-          Agar – agar
-          Gelatin
-          Gom Arab
-          Monogliserida
-          Digliserida
-          Lesitin
-          garam fosfat, garam kalsium
-          kalsium glukonat kalsium sitrat
-          asam alginat
-          calaktat
-          glicerol mono oleat (GMO)
-          sukrosa ester asam lemak
-          sucroglycerides
-          polyglycerol ester asam lemak
-          polyglycerol polyricinoleate
-          Propylene glycol ester
-          lactylated asam lemak
-          dioctyl natrium Sulfosuccinate
-          natrium stearoyl lactylate
-          kalsium stearoyl lactylate
-          stearyl tartarate
-          sorbitan monostearate
-          sorbitan tristearate
-          sorbitan monolaurate
-          sorbitan monooleate            
-          sorbitan monopalmitate


12. Zat Pengeras
                  Zat aditif ini dapat memperkeras atau mencegah melunaknya makanan.
                  Contohnya antara lain :
-          Aluminium amonium sulfat (pada acar ketimun botol)
-          Kalium glukonat (pada buah kalengan)

13. Zat Pemberi Aroma dan Rasa (Essensi / Flovour)
                  Zat aditif ini digunakan untuk memberikan aroma buah-buahan dan atau lainnya pada makanan. sebagian besar zat pemberi aroma adalah golongan ester.
                  Contohnya antara lain :             
-          Etil butirat rasa buah nanas
-          Amil valerat rasa buah apel
-          Oktil asetat rasa buah jeruk
-          Butil asetat rasa buah pisang
-          Isobutil propionat rasa buah rum
-          Benzaldehida rasa buah lobi lobi
-          Benzal dehid mempunyai rasa dan aroma seperti buah cherry.
-          Propil asetat untuk pemberi aroma buah pir
-          Isoamil asetat untuk pemberi aroma buah pisang ambon
-          Metil salisilat untuk pemberi aroma minyak gandapura (wintergreen).
-          Diacetyl esensi Mentega
-          Benzaldehida rasa Bitter almond
-          Cinnamic aldehida rasaCinnamon
-          Ethyl propionate  untuk rasa Fruity
-          Metil anthranilate memberi rasa  anggur
-          Ethylvanillin  untuk esensi Vanilla

14. Humectants
                  Fungsi Humectants mencegah makanan kering. Ketika digunakan sebagai bahan tambahan makanan, para Humectant memiliki efek menjaga makanan basah. Contoh meliputi humectants gliserin, Propylene glycol (E 1520) dan glyceryl triacetate (E1518). Lainnya dapat polyols seperti sorbitol (E420), xylitol dan maltitol (E965), polimer polyols seperti polydextrose (E1200), atau ekstrak alami seperti quillaia (E999), asam laktat atau urea.  Senyawa kimia litium klorida adalah Humectant sangat baik, tetapi beracun.
 

รจ Walaupun semua zat – zat aditif sintetis diatas belum diketahui efek samping yang pasti, jika terlalu banyak mengkonsumsinya dan terlalu sering, mungkin akan menimbulkan kelainan fungsi pada organ, karsinogen, dasb yang merugikan tubuh.

ZAT ADITIF   


 (MACAM –MACAM, JENIS, CONTOH, FUNGSI, EFEK SAMPING)

                        Oleh Kelompok 7 Biologi
                              Kelas XI IPA 4, anggota :
                                    1. Eko Pamungkas (10)
                              2. Erika Kutniawati (12)
                              3. Oki Dika Nurshinta (25)
                              4. Retno Kumala Hesati S. (26)


               SMA NEGERI 3 JOMBANG
       TAHUN PELAJARAN 2009/2010

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Powerade Coupons